17 Juli 2011
Menyambut tahun 2011, nampaknya investasi sudah memperlihatkan jati dirinya kembali. Banyak masyarakat belajar mengenai investasi serta mengaplikasikannya langsung ke dalam dunia prakrek. Pemicunya tentu saja para investor yang berhasil mengelola sahamnya dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan puluhan juta. Namun, tidak dapat dipungkiri masih banyak pula masyarakat yang mempercayakannya pada broker dengan dalih tidak mengerti berinvestasi lalu lenyaplah uang mereka yang telah ditanamkannya tersebut. Lalu, strategi apakah yang sebaiknya diterapkan?
Menyambut tahun 2011, nampaknya investasi sudah memperlihatkan jati dirinya kembali. Banyak masyarakat belajar mengenai investasi serta mengaplikasikannya langsung ke dalam dunia prakrek. Pemicunya tentu saja para investor yang berhasil mengelola sahamnya dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan puluhan juta. Namun, tidak dapat dipungkiri masih banyak pula masyarakat yang mempercayakannya pada broker dengan dalih tidak mengerti berinvestasi lalu lenyaplah uang mereka yang telah ditanamkannya tersebut. Lalu, strategi apakah yang sebaiknya diterapkan?
Bermacam-macam strategi investasi
diterapkan di dunia. Secara garis besar, terdapat dua metode investasi, yaitu technical investing dan fundamental investing. Technical investing memang cukup mudah
dipelajari. Investor hanya perlu memperhatikan trend dari pergerakan data historical. Namun Technical Investing hanya cocok untuk short term saja karena
investor yang menggunakan technical investing tidak memperhatikan konsep bisnis
perusahaan. Tidak terdapat perkiraan bahwa bisa saja suatu saat harganya akan
sangat jatuh. Bahkan kini ada yang menyebut pergerakan anomali pola statistik
tersebut hanyalah kebetulan belaka. Beda halnya dengan fundamental investing. Fundamental
investing terbagi menjadi dua, yaitu growth
investing dan value investing. Fundamental investing berfokus pada
performa perusahaan tersebut. Salah satu metode fundamental investing yang kita fokuskan di sini adalah value investing. Value investing merupakan strategi memilih asset, baik
saham maupun surat hutang, berdasarkan nilai intrinsik-nya menurut persepsi
investor. Bila investor memiliki keyakinan yang di dasarkan pada fakta data
historis bahwa saham yg harganya sedang turun itu akan melejit naik kembali, maka
seorang value investor akan
membelinya. Value investing tidak
lapuk di makan waktu dan justru semakin marak di dunia seiring iklim investasi
yang kini sedang berkembang.
Mungkin banyak dari kita yang
belum pernah mendengar value investing.
Namun cobalah simak cerita Warren Buffet yang memperkenalkan value investing. Saat itu Warren Buffet menjual USD untuk mata uang
di luar USD karena ia mempercayai bahwa USD telah overvalued. Tanpa di sadari
hal tersebut seringkali terjadi di dunia sekitar kita. Membeli USD ketika
sedang undervalued, lalu
menukarkannya kembali ke mata uang Rupiah ketika USD sudah overvalued. Lain
ceritanya dengan Seth Klarman. Ia mempunyai gaya investasi dengan membeli
surat-surat hutang dari perusahaan-perusahaan yang dalam kesulitan keuangan
dikarenakan harga jual surat hutang tersebut lebih rendah daripada potensi
hasil likuidasi perusahaan. Iniliah yang perlu kita pelajari. Membeli dan
mempercayai bahwa surat hutang yang kini murah akan melejit harganya suatu
saat. Seth Klarman bahkan sangat menikmati krisis 2008 yang notabene menjadi
suatu ketakutan bagi masyarakat untuk memegang saham. Saat itu Seth Klarman
justru membeli banyak surat hutang dan kini keuntungannya sudah mencapai
triliunan rupiah. Value investing ini
berfokus pada dasar perhitungan price-to-book
value (PBV) atau price-to-earnings
ratio (PER) yang rendah atau saham dengan dividend-yield yang tinggi dari data historisnya.
PER merupakan cara perhitungan
dengan cara membagi harga saham dengan keuntungan perlembar saham. Bila saham tersebut memiliki PER 5, artinya diperlukan
waktu lima tahun untuk balik modal dengan berdasarkan keuntungan yang didapat
setiap tahun. Semakin kecil PER, maka perusahaan itu semakin bagus. Sementara PBV adalah Harga saham
/ (total harta – total utang). Rasio ini digunakan untuk membandingkan
suatu perusahaan dengan PER rata-rata dari perusahaan dalam kelompok industri
sejenis, sehingga kita mengetahui apakah saham tersebut tergolong murah atau
tidak. Ambil saja contoh harga penawaran perdana saham Garuda yang berada pada
kisaran Rp 750 atau memiliki PER 32,42 kali dan PBV 2,21 kali. Harga tersebut
terbilang mahal bila dibandingkan dengan China Southern Airlines yang tercatat memiliki PER 13,54 kali dan
PBV 1,06 kali.
Bepijak pada fakta data historis seperti
di atas belum tentu dapat dijadikan pegangan karena “past performance does not
necessarily indicative of future performance”. Harapan yang berlebihan atas future performance perusahaan dengan
memakan rumor-rumor spekulan yang ada seringkali menjerumuskan investor. Belum
lagi aksi penggorengan saham, bubble and
crash, yang semakin marak membuat keefisienan pasar kian merosot. Menjadi
perhatian juga bahwa tidak seluruh aset yang terlihat undervalued memang benar-benar undervalued.
Kita harus tetap melihat dasar-dasar yang kuat yang dapat menjawab mengapa
suatu aset bisa sampai undervalued.
Volatilitas pasar yang di sebut-sebut sebagai kesempatan bagi value investor
untuk dapat membeli aste yang undervalued pun kadang dapat menjerumuskan
investor itu sendiri. Investor harus berani bertahan memegang asetnya di
tingkat volatilitas pasar yang tinggi.
Iklim investasi di Indonesia memang belum cukup kuat untuk menanamkan
metode value investing bagi mereka yang takut dan tidak ingin mengambil resiko.
Ketakutan itu memang sangat beralasan melihat tantangan-tanatangan di
atas. Corporate Governance Indonesia
yang kurang transparan serta masih lemahnya UU Investasi di Indonesia membuat
value investor harus berpikir dua kali. Seorang value investor pun dituntut
untuk memiliki kesabaran yang tinggi untuk menunggu waktu yang benar-benar
tepat dalam membeli saham undervalued di tengah-tengah fluktuasi pasar yang
berlebihan.
iyappp bener mbak... numpang blog ya...
BalasHapushttp://bedanpe.blogspot.com/2015/06/multi-bintang-indonesia-si-bintang.html